Published On: Thu, Feb 16th, 2017

Belut Sawah, Komoditas Air Tawar yang Terlupakan

Fardi Kallang, SH

Oleh: Fardi Kallang

RASA letih terasa menikam badan usai menempuh perjalanan darat selama tujuh jam dari Kota Palu, Ibukota Proovinsi Sulawesi Tengah menuju Kota Raya Kabupaten Parigi Moutong, Perjalanan di akhir pekan kali ini kami maksudkan untuk mengintip peluang usaha pengepul belut sawah di daerah ini.Sedikit mengigatkan saya dimasa kecil waktu di desa ketika ayah membajak sawah hewan air yang paling sering kami temukan adalah belut, tak jarang ayah menangkap dengan mudahnya kemudian membawa pulang kerumah sebagai buah tangan.

Belut merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan bentuk tubuh bulat memanjang yang hanya memiliki sirip punggung dan tubuhnya licin,hewan air ini adalah predator ganas di lingkungan rawa dan sawah. Makanannya ikan kecil, cacing, krustasea. Ia aktif di malam hari. Hewan ini dapat mengambil oksigen langsung dari udara dan mampu hidup berbulan-bulan tanpa air, asalkan lingkungannya tetap basah. Hewan ini bahkan mampu menyerap oksigen lewat kulitnya. Kebiasaannya adalah bersarang di dalam lubang berlumpur dan menunggu mangsa yang lewat. Walaupun berasal dari daerah tropika, belut diketahui dapat bertahan hidup melewati musim dingin dengan suhu sangat rendah. Ukuran maksimum adalah 1m, meskipun yang banyak dikonsumsi paling panjang 40 cm.

Belut merupakan hewan hermaprodit, dimasa muda merupakan belut betina dan bersarang di lubang untuk meletakkan telur-telurnya pada busa-busa di air yang dangkal. Jika telur menetas, keluarlah belut muda yang semuanya betina. Dalam usia lebih tua perkembangan berikutnya, akan menjadi belut jantan.

Jenis belut ada 3 (tiga) macam yaitu belut rawa (Synbranchus bengalensis), belut sawah (Monopterus albus) dan belut kali/laut (Macrotema caligans). Belut yang terdapat di kota raya adalah merupakan belut sawah (Monopterus albus) yakni belut yang ditangkap di daerah persawahan warga.Belut sawah, (Monopterus albus) adalah sejenis ikan anggota suku Synbranchidae (belut), ordo Synbranchiiformes, yang mempunyai nilai ekonomi dan ekologi. Ikan ini dapat dimakan, baik digoreng, dimasak dengan saus pedas asam, atau digoreng renyah sebagai makanan ringan. Secara ekologi, belut dapat dijadikan indikator pencemaran lingkungan karena hewan ini mudah beradaptasi. Lenyapnya belut menandakan kerusakan lingkungan yang sangat parah telah terjadi.

Pemanfaatan komoditas ini baru diminati oleh warga Kota Raya Parigi Moutong pada tahun 2016 kemarin, untuk skala domestik ( dalam kurung waktu 10 Tahun terakhir tidak ada Pengiriman: Sumber Stasiun KIPM Kelas I Palu), Meskipun kita ketahui bahwa di Indonesia sejak tahun 1979, belut mulai dikenal dan digemari, hingga saat ini belut banyak dibudidayakan dan menjadi salah satu komoditas ekspor.

Data yang tercatat pada Kantor Stasiun Karantina Ikan Pengendalian mutu dan Keamamanan Hasil Perikanan Kelas I Palu sepanjang tahun 2016 sebanyak 624.050 ekor belut dilaporkan dan dilalulintaskan  dengan frekuensi pengiriman 58 kali serta daerah tujuan Denpasar. Mengingat belut yang didapatkan adalah hasil tangkapan alam berdasarkan penuturan dari salah seorang pengumpul, Penangkapan belut dilakukan secara berkelompok setelah terkumpul jumlah sesuai dengan permintaan pasar baru kemudian dilakukan pengiriman ke daerah tujuan pasar, untuk menjamin agar belut yang dikeluarkan bebas dari hama dan penyakit ikan karantina (HPIK) terlebih dahulu dilakukan pengujian kesehatan pada laboratorium uji Stasiun KIPM Kelas I Palu baik secara klinis maupun secara laboratoris dengan target pemeriksaan mikotik, parasit, dan bakterial apabila setelah dilakukan pemeriksaan terdapat hama dan penyakit ikan karantina maka terhadap media pembawa (belut) tersebut dilakukan penolakan dan apabila berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan tidak ditemukan HPIK maka terhadap media pembawa (belut) tersebut dilakukan pembebasan dengan keluarnya sertifikat kesehatan ikan.

Berdasarkan referensi yang ada sentra perikanan belut Internasional terpusat di Taiwan, Jepang, Hongkong, Perancis dan Malaysia. Sedangkan sentra perikanan belut di Indonesia berada di daerah Yogyakarta dan di daerah Jawa Barat. Di daerah lainnya seperti kabupaten Parigi Moutong merupakan tempat penampungan belut tangkapan dari alam. Manfaat dari usaha belut ini adalah sebagai penyediaan sumber protein hewani, pemenuhan kebutuhan sehari-hari, dan sebagai obat penambah darah.

Untuk memenuhi kebutuhan akan permintaan pasar kegiatan budidaya ikan belut, baik dalam bentuk pembenihan maupun pembesaran mempunyai prospek yang cukup baik.Kejelian masyarakat di daerah Kota Raya Kabupaten Parigi Moutong sedikitnya memberikan pelajaran serta menjadi contoh dalam memanfaatkan sumber daya ikan yang ada sehingga dapat dikelolah secara bertangung jawab dan memberikan kebermanfaatan bagi pembangunan perikanan yang berkelanjutan.

*)Penulis adalahFungsional PHPI Pada Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas I Palu.

About the Author

- beritapalu.net | Portal berita online, mengabarkan tentang Palu - Sulawesi Tengah dan sekitarnya...

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

%d bloggers like this: